Engkau Adalah

/6/

Engkau adalah

titik yang mengakhiri

Engkau Adalah

/2/

Engkau adalah

senja di horison

rintik di tanah kering

Engkau Adalah

/1/

Engkau adalah

rintik hujan yang turun membasahi tanah keringku

Aku selalu merindu kau, pada kemarau panjang,

juga pada hujan yang lebat berkejaran bersama gertak halilintar

aku selalu merindu rintik-rintikmu.

Doa

Tidakkah kita rikuh berdoa untuk diri dan keluarga sendiri, dan bukan untuk orang lain yang malang atau dianiaya? Bukan karena Tuhan akan kehabisan, tapi jangan-jangan kita terlalu manja dan serakah.

Kicauan GM--tentang doa, berdoa, dan mengapa kita berdoa--di atas sungguh benar menggangu saya. Saya membacanya di sela-sela waktu menunggu adzan Magrib pada Ramadan lalu. Saya sukses dibuat berpikir lagi tentang doa-doa yang biasa saya panjatkan. Saya melihat kembali, mencermati , dan memikirkan ulang setiap pinta yang senantiasa membuat saya hibuk. Dan juga terkadang membuat saya kecewa, pada Tuhan, jika doa saya tak terkabul. Kemudian, saya menjadi malu dengan doa-doa saya.

Benar kata GM, kita rikuh berdoa untuk diri sendiri. Saya berdoa agar esok lusa diberi kehidupan yang bahagia, padahal (mungkin) banyak orang lain yang hanya meminta sedetik tambahan waktu untuk mengerjakan sesuatu di ujung hidupnya (tanpa bahagia pun tak apa). Saya berdoa agar diberi harta yang ruah melimpah, padahal (mungkin) banyak orang lain yang hanya meminta sesuap nasi untuk mengobati laparnya. Saya berdoa agar kereta menuju rumah tak penuh sesak, jalan tak tersendat-sendat, padahal (mungkin) banyak orang lain yang hanya meminta celah kesempatan untuk pulang ke kampung halaman dan tak hirau akan kondisi transportasi. Tidakkah doa saya berlebihan?

Saya serakah. Terlalu meminta kepada Tuhan. Ia mungkin tak akan kehabisan, tapi Ia akan murka pada keberlebihlebihan ini. Maka, saya menghentikan doa-doa yang sangat duniawi itu. Tak perlulah saya meminta kesuksesan, kecemerlangan, kekayaan, dan semua yang sebenarnya fana. Toh, Tuhan menjamin masa depan. Ia telah memberi kita porsi yang pas. Ia memberi apa yang kita butuh. Bukan yang kita ingin.

Maka, bersyukur adalah pengganti paling bermakna bagi doa yang terlampau melambung jauh. Saya berhenti meminta hal-hal yang duniawi, dan mulai bersyukur pada apa yang Tuhan telah beri. Bukankah Ia telah berjanji akan menambah nikmat yang berlimpah bila kita senantiasa bersyukur?

Segala puji hanya miliknya, Tuhan semesta alam.

Setelah Ramadan, 2010.

Perjalanan

Selamat jalan. Rentang terbentang. Masyrik dan maghrib adalah jauh jarak yang kelak akan kau (juga aku) lewati demi mencari-Nya. Demi menjadi dekat. Dan kita melayang dari jauh permukaan. Dunia tertinggal. Perjalanan akan segera bermula.

Perjalanan ini tak perlu jauh ke Mekkah. Tak perlu meratap pada tembok Yerusalem. Tak perlu melepas raga di Gangga.

Perjalanan spiritual membentang dari kening ketika tegap bertakbir hingga merunduk, merendah, dan sujud mencium tanah. Perjalanan spiritual adalah pencarian makna pada labirin ayat-ayat suci. Perjalanan spiritual menempuh jauh ke dalam diri.

Semoga ada sesuatu pada sela-sela untaian bulir tasbih yang bergulir. Semoga Ia menemukan kita di belantara hijaiah yang terbaca, hingga kita pun menemuinya. Semoga kita mendidih hingga derajat yang telah Tuhan janjikan pada Sapi Betina 183.

Jika telah berhasil jauh tertempuh, kita tak akan pernah tau, mungkin kita nanti tak lagi bisa menemukan jalan menuju rumah. Waktu takkan pernah terhenti, tapi kita pasti. Akan berhenti.

Selamat. Selamat menjadi manusia yang lebih bersahaja. Selamat menjadi hamba yang tak hanya serakah berdoa untuk dirinya sendiri.

Ramadan, 2010.