Tidakkah kita rikuh berdoa untuk diri dan keluarga sendiri, dan bukan untuk orang lain yang malang atau dianiaya? Bukan karena Tuhan akan kehabisan, tapi jangan-jangan kita terlalu manja dan serakah.
Kicauan GM--tentang doa, berdoa, dan mengapa kita berdoa--di atas sungguh benar menggangu saya. Saya membacanya di sela-sela waktu menunggu adzan Magrib pada Ramadan lalu. Saya sukses dibuat berpikir lagi tentang doa-doa yang biasa saya panjatkan. Saya melihat kembali, mencermati , dan memikirkan ulang setiap pinta yang senantiasa membuat saya hibuk. Dan juga terkadang membuat saya kecewa, pada Tuhan, jika doa saya tak terkabul. Kemudian, saya menjadi malu dengan doa-doa saya.
Benar kata GM, kita rikuh berdoa untuk diri sendiri. Saya berdoa agar esok lusa diberi kehidupan yang bahagia, padahal (mungkin) banyak orang lain yang hanya meminta sedetik tambahan waktu untuk mengerjakan sesuatu di ujung hidupnya (tanpa bahagia pun tak apa). Saya berdoa agar diberi harta yang ruah melimpah, padahal (mungkin) banyak orang lain yang hanya meminta sesuap nasi untuk mengobati laparnya. Saya berdoa agar kereta menuju rumah tak penuh sesak, jalan tak tersendat-sendat, padahal (mungkin) banyak orang lain yang hanya meminta celah kesempatan untuk pulang ke kampung halaman dan tak hirau akan kondisi transportasi. Tidakkah doa saya berlebihan?
Maka, bersyukur adalah pengganti paling bermakna bagi doa yang terlampau melambung jauh. Saya berhenti meminta hal-hal yang duniawi, dan mulai bersyukur pada apa yang Tuhan telah beri. Bukankah Ia telah berjanji akan menambah nikmat yang berlimpah bila kita senantiasa bersyukur?
Segala puji hanya miliknya, Tuhan semesta alam.
Setelah Ramadan, 2010.
No comments:
Post a Comment